BCTL identifikasi uang koin 200 Centavos palsu yang beredar di pasar nasional

DILI, 04 Maret 2026 (TATOLI) – Bank Sentral Timor-Leste (BCTL), bersama Kepolisian Ilmiah Investigasi Kriminal (PSIC) dan Direktorat Layanan Investigasi Kriminal (DSIC), telah mendeteksi adanya peredaran uang koin 200 Centavos palsu di pasar nasional.
Manajer Operasi Mata Uang BCTL, António Espírito Santo, mengatakan uang palsu tersebut diidentifikasi oleh BCTL pada 27 Februari 2026 ketika bank melakukan layanan perbankan. Saat itu, seorang nasabah membawa uang ke bank dan terdeteksi bahwa uang palsu tersebut bercampur dengan uang asli.
Menurutnya, jumlah uang palsu tersebut saat ini masih sedang diidentifikasi oleh tim, sehingga jumlah totalnya belum dapat diumumkan. Namun, informasi ini perlu segera disampaikan kepada masyarakat agar dapat diketahui secara luas.
“Kami ingin menginformasikan kepada publik bahwa BCTL yang bekerja sama dengan pihak berwenang telah mengidentifikasi peredaran uang palsu pecahan 200 Centavos tahun 2017 yang diproduksi oleh pelaku kejahatan dan diedarkan di negara kita,” kata António Espírito Santo dalam konferensi pers yang digelar di BCTL hari ini.
Ia mengatakan bahwa dengan adanya temuan uang palsu tersebut, masyarakat diminta untuk memeriksa dengan saksama uang koin 200 Centavos seri 2017. Jika saat melakukan transaksi jual beli ditemukan uang koin 200 Centavos yang dicurigai palsu, uang tersebut tidak boleh dikembalikan ke peredaran.
Namun, masyarakat diminta untuk menyimpan uang tersebut dan segera melaporkannya ke Bank Sentral. Bagi masyarakat di kotamadya dan daerah pedesaan, kasus seperti ini juga dapat dilaporkan kepada PNTL, PSIC, serta otoritas lokal di tingkat kampung atau desa.
Berita terkait : Koin 0,50 Centavos Timor-Leste dipalsukan, BCTL imbau masyarakat lebih teliti
Ia juga menggarisbawahi bahwa jika terdapat individu yang terlihat atau dicurigai membawa uang palsu pecahan koin 200 Centavos dalam jumlah besar, hal tersebut harus segera dilaporkan kepada pihak berwenang terkait seperti PNTL dan PSIC.
Ia menjelaskan bahwa untuk mengidentifikasi uang asli atau palsu dapat dilihat dari warnanya serta kualitas cetakannya. Uang asli koin 200 Centavos memiliki kualitas yang baik, tebal, dan bersih, dengan tanda tahun 2017, logo BCTL dengan huruf kecil, serta gambar pegunungan dan sapi di ladang yang jelas. Selain itu, tulisan REPÚBLICA DEMOCRÁTICA DE TIMOR-LESTE memiliki aksen huruf Ú dan Á yang jelas dan tebal.
Sementara itu, pada uang palsu warnanya tidak bersih, gambar pegunungan dan ladang tidak jelas, dan tulisan REPÚBLICA DEMOCRÁTICA DE TIMOR-LESTE menunjukkan aksen huruf Ú dan Á yang tidak jelas serta sangat tipis. Huruf BCTL pada badan uang juga tidak terlihat jelas, mata sapi tampak terlalu besar, dan permukaan uang terasa lebih kasar dibandingkan dengan yang asli.
“Kami meminta masyarakat, terlepas dari munculnya mata uang palsu, untuk tetap menggunakan uang koin Centavos seperti 1 Centavos, 5 Centavos, 10 Centavos, 25 Centavos, 50 Centavos, 100 Centavos, dan 200 Centavos, serta tetap percaya kepada pihak berwenang yang bekerja untuk mengidentifikasi dan melacak pelaku yang memproduksi serta mengedarkan uang palsu di negara kita,” ujarnya.
Dalam kasus ini, BCTL akan mengambil langkah sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh hukum untuk memastikan peredaran mata uang resmi (centavos dan uang kertas dolar AS) di Timor-Leste tetap terjaga.
Asisten Kepala Operasi Direktorat Layanan Investigasi Kriminal, Mouzinho Correia, mengatakan kasus tersebut mulai diproses pada Jumat pekan lalu setelah pihaknya menerima pengaduan dari BCTL.
“Kami belum dapat menemukan pelakunya. Saat ini petugas kami di lapangan sedang melakukan pencarian. Kami juga meminta semua pihak yang memiliki informasi terkait uang palsu ini agar melaporkannya kepada kami,” katanya.
Mengenai kasus uang palsu sebelumnya, seperti koin 50 Centavos palsu yang terdeteksi tahun lalu, ia mengatakan bahwa proses penyelidikan masih terus berjalan dan kasus tersebut belum ditutup.
Reporter : Arminda Fonseca (Penerjemah: Cidalia Fátima)
Editor : Armandina Moniz
