Koor Gereja dan Partisipasi Umat dalam Lagu Liturgi di Timor-Leste

Oleh: Dominika Dwikori Sitaresmi, M.A.
Menjelang Hari Raya Tri Hari Suci (Kamis Putih, Jumat Agung dan Malam Paskah & juga tentu saja Minggu Paskah) banyak kelompok koor sibuk berlatih. Ketiga hari ini memang memiliki lagu-lagu yang sangat berbeda. Kamis Putih mencerminkan kesedihan Tuhan Yesus saat Mengadakan Perjamuan Malam Terakhir dan berdoa di Taman Getsemani. Jumat Agung merupakan puncak kesedihan umat Kristiani, yang mengenangkan sengsara dan wafat Yesus di Golgota, di mana Ibadat Jumat Agung (bukan Misa Kudus seperti biasa) berisi lagu-lagu yang sedih, pilu dan mayoritas bernada minor. Sebaliknya, Malam Paskah dan Hari Raya Paskah dipenuhi sukacita karena kebangkitan Kristus, yang dirayakan secara meriah. Lagu-lagu yang dinyanyikan pun penuh kegembiraan, indah serta megah.
Sayangnya lagu-lagu yang indah dan megah itu kebanyakan hanya dinyanyikan oleh koor yang mengakibatkan umat hanya menjadi pendengar. Bahkan lagu-lagu ordinarium pun (Kyrie, Gloria, Sanctus dan Agnus Dei) dipilih yang “spektakuler”, yang jarang digunakan setiap minggu, sehingga umat benar-benar hanya datang untuk duduk mengikuti Misa Kudus saja, tanpa bisa bernyanyi.
Ketersediaan Buku Nyanyian Untuk Umat
Di beberapa negara, lagu-lagu gereja sudah disusun dalam buku resmi sehingga umat dapat ikut bernyanyi dengan mudah. Di Indonesia, sejak tahun 1980 Pusat Musik Liturgi Yogyakarta menerbitkan buku Madah Bakti yang digunakan secara luas di berbagai keuskupan. Kehadiran buku ini memudahkan umat mengikuti liturgi karena teks dan notasi lagu tersedia. Komisi Liturgi Konferensi Wali Gereja Indonesia yang berpusat di Jakarta juga menerbitkan buku Puji Syukur untuk maksud yang sama di tahun 1993.
Di Australia, Gereja Katolik juga menggunakan buku Worship Catloic Book yang dicetak dengan menggunakan not balok. Meski hanya berisi satu suara, tetap membuat umat bisa bernyanyi dengan mudah dan baik. Ordinarium yang digunakn dalam Misa Solene juga lagu Angelus berbahasa Latin, sehingga semua umat bisa bernyanyi dengan baik.
Bagaimana dengan Timor Leste? Penduduk Timor memiliki bakat bernyanyi yang sangat baik. Kemampuan umat menirukan suara sangat cepat dan sangat baik, sehingga lagu-lagu yang dinyanyikan kalau berulang kali didengar, sebenarnya akan mudah ditiru umat. Hanya menjadi masalah, untuk lagu-lagu Trihari Suci dan hari raya lain, sangat sedikit Koor yang ingin mengajak umat bernyanyi. Banyak pelatih koor berlomba-lomba mencari lagu baru.
Kehadiran Media Sosial dan Pengaruhnya Untuk Koor Gereja
Kehadiran media Sosial YouTube bagi koor gereja berpengaruh sangat besar. Lagu-lagu yang dinyanyikan di Italia kalau dianggap baik akan segera “diboyong” dan dinyanyikan di Dili-Timor Leste. Lagu “Pie Jesu” yang dinyanyikan dengan sangat indah oleh Malakai juga dinyanyikan di gereja-gereja tidak lama setelah lagu itu di-upload. Juga lagu “Mati Demi Aku” Ciptaan dan aransir Delta Damiana, yang dinyanyikan oleh Koor Gitapalma, Bandung, dengan cepat juga dinyanyikan oleh beberapa koor di Dili, dengan tetap menggunakan Bahasa Indonesia.
YouTube tidak hanya menjadi patokan untuk meniru, tetapi juga menjadi sarana pengajaran lagu. Lagu-lagu Mazmur yang diciptakan oleh Padre Ilafonso Xavier, Pr. juga diajarkan oleh beberapa orang dan di-upload di YouTube sehingga banyak sekali koor yang terbantu untuk menyanyikan dengan benar, meski hanya dengan cara menirukan dan bukan membaca notnya (karena buku Mazmur sudah disediakan), hanya Padre Idelfonso Xavier, Pr. menggunakan not balok, sehingga bagi para pelatih koor yang tidak pernah belajar musik gereja akan kesulitan karena tidak bisa membaca not balok itu.
Beberapa koor lalu berinisiatif minta tolong pada pihak yang bisa membaca not balok untuk mengganti ke dalam not angka dan mengetikkan untuk kebutuhan koor. Kalau Gereja Katolik di Timor Leste mau menerbitkan buku Mazmur karya Padre Idelfonso Xavier, Pr. ke dalam not angka, pasti akan disambut dengan gembira oleh para anggota koor.
Janji Gereja Katolik Timor Leste Untuk Menyortir Lagu Liturgi dan Membukukannya
Sebagai pelatih koor dan organis gereja Katolik di Timor Leste sejak 1997, penulis selalu teringat Konggres yang diselenggarakan oleh 3 Dioses di Timor Leste: Diosis Dili, Dioses Maliana dan Dioses Baucau, yang diselenggarakan di Aula Canossa, di Has Laran, Comoro, Dili pada tahun 2010.
Konggrers yang mengundang para aktivis gereja termasuk pelatih koor, menghasilkan Keputusan sangat penting: Akan menyortir lagu-lagu Liturgi. Rupanya Gereja Katolik di Timor Leste menyadari kalau selama sekian tahun ada beberapa lagu yang tidak bisa dikategorikan dalam lagu liturgis, namun terlanjur tercetak dalam buku Hananu Ba Nai seperti lagu persembahan berjudul:”Loron Ida Ne’e Ho Missa Ida Ne’e” yang digubah dari lagu “Blowing In the Wind”, atau lagu Natal berjudul:”Belem Belem” yang merupakan lagu untuk dansa di Ambon, sehingga sama sekali tidak cocok bila dipakai dalam Liturgi dan masih banyak lagi.
Selain menyortir lagu-lagu untuk keperluan Liturgi, Konggres ke 3 Dioses itu juga memutuskan untuk menerbitkan buku bagi umat dengan menggunakan not balok dan not angka. Keputusan ini disambut para praktisi musik gereja di Timor Leste dengan sangat gembira. Sayangnya sampai tahun 2026 ini, buku yang dijanjikan tidak kunjung terbit, yang berarti sudah 16 tahun.
Sebenarnya Timor Leste telah memiliki beberapa orang ahli musik seperti Padre Prof. Dr. Joel Casimiro Pinto, OFM- Rektor UCT yang sangat tekun belajar organ gereja sejak masih bersekolah di Semanari Nossa Senhora de Fátima, Balide Dili dan berlanjut ketika studi di Roma, juga Padre Aderito Manuel Euclides Victor da Costa, SDB, M.M., Master Musik lulusan Brasil dan Pe. Mouzinho, Pr., juga Padre Nelson, Pr. yang mengajar di Academy Musica Fatumeta, Dili serta beberapa orang awam yang tekun belajar musik di institusi Conservatorium Australia seperti Sr. Alberto “Toto” Pereira -pelatih dan pianis Koor Santa Cicilia– Balide, Sr. Amito Freitas, lulusan Institut Seni Indonesa (ISI-Yogyakarta) dan kini sedang mengambil Master di kampus yang sama, Sr, Januario, seorang guru Musik di Sekolah Canossa yang juga studi S1 piano di ISI-Yogyakarta, penulis percaya cita-cita Gereja Katolik Timor Leste untuk menerbitkan buku nyanyian untuk umat akan bisa segera terwujud.
Seandainya para ahli musik ini berkolaborasi dan mengajak Sr. Usvaldo Goveia Leite (dimana semua hasil ketikannya digunakan dalam Perayaan Misa Agung saat Paus Fransiskus datang ke Dili September tahun 2024) untuk mengerjakan proyek penerbitan buku nyanyian untuk umat ini, maka hasil Konggres Komisi Liturgi 2010 di Has Laran, Dili akan benar-benar terwujud.
Penulis juga yakin, kalau sudah ada buku nyanyian denga not untuk umat, koor tidak akan membabi buta memilih lagu-lagu baru yang ada di media sosial, tetapi menyesuaikan dengan minat dan kemampuan umat dalam bernyanyi.
Fungsi utama koor dalam liturgi bukanlah untuk tampil sebagai kelompok penyanyi yang menghibur umat, melainkan untuk mengajak seluruh umat bernyanyi bersama memuji Tuhan sesuai prinsip Gereja Katolik universal: Sacrosanctum Concilium.
Karena itu, kehadiran buku nyanyian liturgi yang resmi sangat penting bagi Gereja Katolik di Timor-Leste. Dengan demikian, pada perayaan besar seperti Tri Hari Suci, Natal, dan hari raya lain, umat tidak hanya menjadi pendengar, tetapi sungguh ikut ambil bagian dalam pujian bersama.
Dengan demikian, pengembangan buku nyanyian liturgi yang resmi bukan hanya kebutuhan praktis bagi koor, tetapi juga merupakan langkah penting untuk membangun partisipasi umat secara penuh dalam perayaan iman Gereja di Timor-Leste.
Dili, 18 Maret 2026
Penulis, Dominika Dwikori Sitaresmi, M.A.
Catatan Untuk Redaksi TATOLI.tl
Dominika Dwikori Sitaresmi, M.A adalah:
Pencinta Musik Gereja.
Pelatih Koor FCSP-UNTL juga Organis di beberapa koor dan Dosen di
Departamento Comunicação Social, FCSP-UNTL.
