32,3% Investasi sektor swasta Timor-Leste terkonsentrasi di bidang konstruksi

DILI, 23 Maret 2026 (TATOLI)– Gubernur Bank Sentral Timor-Leste, Helder Lopes mengatakan ekonomi Timor-Leste tetap didominasi oleh sektor swasts, di mana pengeluaran dan investasi pemerintah menjadi motor utama pertumbuhan. Kendala struktural, termasuk akses terbatas terhadap pembiayaan, infrastruktur yang belum berkembang, pasar domestik yang kecil, serta regulasi yang membatasi, terus menghambat perkembangan sektor swasta.
“Akibatnya, sektor swasta di Timor-Leste masih kecil, tumbuh secara moderat, dan terkonsentrasi pada beberapa sektor dengan produktivitas rendah, sehingga peluang diversifikasi ekonomi, penciptaan lapangan kerja yang luas, dan pertumbuhan berkelanjutan menjadi terbatas,” ungkap Helder Lopes di CCD, Senin ini.
Melalui laporan BCTL yang diluncurkan hari ini, menunjukkan, investasi swasta yang persistennya rendah mencerminkan kendala struktural, terutama dominasi investasi publik dan struktur ekonomi yang didorong konsumsi, sehingga membatasi dinamika sektor swasta.
Selama lima tahun terakhir, investasi swasta sangat terkonsentrasi di sektor konstruksi, yang menyumbang 32,2% dari output sektor swasta, diikuti perdagangan grosir dan eceran sebesar 25,1%. Kondisi ini menunjukkan bahwa investasi swasta cenderung berorientasi pada aktivitas yang terkait pengeluaran publik dan permintaan domestik, bukan pada sektor transformasi dan berproduktivitas tinggi.
“Investasi di sektor lain masih terbatas. Manufaktur hanya mencakup 7,2% dari investasi swasta, menandakan lemahnya pengembangan industri dan ketiadaan basis industri yang kuat. Transportasi dan pergudangan (3,7%) serta akomodasi dan jasa makanan (5,0%) juga tetap kecil, mencerminkan keterbatasan ekspansi sektor pariwisata,” katanya.
Selain itu sektor informasi dan komunikasi (9,5%) serta jasa keuangan dan asuransi (5,7%) menarik investasi moderat, menandakan pertumbuhan layanan modern secara bertahap dari basis yang rendah. Sisa 11,6% investasi swasta tersebar di sektor lainnya.
Ketergantungan tinggi pada impor semakin melemah insentif untuk berinvestasi domestik. Pada 2025, impor meningkat 5,7% dalam istilah riil, mengurangi kontribusi pertumbuhan PDB sebesar 3,6 poin persentase. Dominasi barang konsumsi impor, input menengah, dan bahan konstruksi mengurangi daya saing perusahaan lokal, membatasi pengembangan rantai pasok domestik, dan memperkuat model pertumbuhan yang didorong konsumsi.
Ekspor non-migas tetap terkonsentrasi, terutama kopi, membuat ekonomi rentan terhadap fluktuasi harga global dan membatasi pendapatan devisa sektor swasta. Pola aliran investasi asing langsung (FDI) pada 2023–2024 juga menguatkan tren investasi domestik, dengan konstruksi serta perdagangan grosir dan eceran menyerap hampir 53% total FDI pada 2024. Sementara itu, jasa keuangan dan informasi menarik inflow moderat, sedangkan manufaktur tetap minim investasi asing.
Daya saing eksternal Timor-Leste juga terhambat penggunaan dolar AS. Meski dolar yang kuat membantu menekan biaya impor dan inflasi, hal ini sekaligus meningkatkan biaya produksi domestik dalam mata uang asing, melemahkan daya saing ekspor. Dampak ini membatasi perkembangan sektor swasta di bidang perdagangan luar negeri, manufaktur, pertanian, dan pariwisata. Tanpa kemampuan menyesuaikan nilai tukar, peningkatan daya saing hanya dapat mengandalkan produktivitas dan efisiensi biaya, yang terbatas oleh kesenjangan infrastruktur, kekurangan keterampilan, biaya logistik tinggi, serta akses pembiayaan yang terbatas.
Dengan kondisi ini, investasi swasta Timor-Leste masih sangat terkonsentrasi pada sektor rendah produktivitas, sementara sektor transformasi dan ekspor berpotensi tinggi tetap kurang dimanfaatkan, sehingga pertumbuhan ekonomi jangka panjang menghadapi tantangan besar.
Reporter: Cidalia Fátima
Editor: Armandina Moniz
