Ekonom Rui : Ketegangan di Timur Tengah berisiko pada dana perminyakan Timor-Leste

Ekonom Timor-Leste, Rui Gomes. Foto Tatoli/Francisco Sony

DILI, 11 Maret 2026 (TATOLI) – Ekonom Timor-Leste, Rui Gomes, mengingatkan bahwa ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat, berpotensi memberikan tekanan signifikan yang berisiko terhadap Dana Perminyakan Timor-Leste.

Rui menjelaskan, meskipun Timor-Leste tidak lagi mengekspor minyak secara besar-besaran, konflik tersebut dapat berdampak pada nilai Dana Perminyakan, yang merupakan sumber pendapatan utama negara.

“Dampak konflik ini tidak hanya pada ekonomi dan keamanan pangan, tetapi juga pada Dana Perminyakan kita. Meskipun tidak langsung, efeknya bisa terasa dalam jangka panjang,” katanya kepada TATOLI, Rabu ini.

Ia menambahkan, pada 2025 pemerintah menarik sekitar US$600 juta dari Dana Perminyakan untuk membiayai Anggaran Negara, sehingga nilai kekayaan dana berkurang sekitar US$340 juta. Saat ini, nilai Dana Perminyakan mencapai US$18,77 miliar, namun tanpa pemasukan dari ladang Bayu-Undan, pengelolaan dana harus lebih berhati-hati.

Rui juga menekankan risiko dedolarisasi global. Sejumlah negara besar mulai mengurangi penggunaan dolar Amerika Serikat dalam transaksi internasional dan beralih ke mata uang lain. Hal ini dapat melemahkan nilai dolar, yang berdampak pada aset Dana Perminyakan, karena sebagian besar investasinya berbasis dolar AS.

Menurutnya, sekitar 65 persen dana diinvestasikan dalam obligasi pemerintah Amerika Serikat, 31,6 persen di pasar saham internasional, dan sisanya 2,8 persen di instrumen utang swasta. Volatilitas pasar global, khususnya dari konflik di Timur Tengah, dapat memengaruhi pengembalian investasi dan stabilitas Dana Perminyakan.

Selain itu, pelemahan dolar berpotensi meningkatkan biaya impor bagi Timor-Leste, yang masih sangat bergantung pada barang impor dari kawasan yang tidak menggunakan dolar, seperti negara-negara ASEAN dan Eropa.

Mantan Menteri Keuangan itu menekankan pentingnya diversifikasi ekonomi. Ia mendorong pengembangan produk lokal dan industri pengolahan untuk mengurangi ketergantungan pada impor dan meningkatkan ketahanan ekonomi.

“Diversifikasi ekonomi akan memperkuat ketahanan negara dalam menghadapi situasi krisis. Kita perlu membangun fondasi ekonomi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap impor,” ujarnya.

Ekonom itu menegaskan, meski dampak konflik dan dedolarisasi global belum terasa langsung, pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat perlu mempersiapkan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas ekonomi dan keberlanjutan Dana Perminyakan.

Reporter : Cidalia Fátima

Editor    : Armandina Moniz

 

Ramadan Publisidade

Leave a Reply

Latest Post

Sponsored