WHO : Konflik Timur Tengah ganggu sistem kesehatan di 16 daerah

DILI, 12 Maret 2026 (TATOLI) – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa konflik yang semakin meningkat di kawasan Timur Tengah telah mengganggu sistem kesehatan di sedikitnya 16 daerah, serta memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.
Dalam pernyataan yang dirilis WHO pada pada 11 Maret 2026 yang diakses Tatoli, disebutkan bahwa lebih dari sepuluh hari sejak eskalasi konflik terbaru, sistem kesehatan di berbagai negara menghadapi tekanan besar akibat meningkatnya jumlah korban luka, pengungsian, serta serangan terhadap fasilitas kesehatan.
Disebutkan bahwa 16 daerah tersebut adalah Iran, Lebanon, Israel, Palestinian territory (Gaza), Palestinian territory (West Bank/ Tepi Barat), Egypt, Afghanistan, Mozambique, Jordan, Syria, Iraq, Yemen, Turkey, Lebanon, Sudan, Tunisia, Morocco.
Menurut laporan otoritas kesehatan nasional, konflik tersebut telah menyebabkan lebih dari 1.300 kematian dan sekitar 9.000 orang terluka di Iran, sementara di Lebanon tercatat sedikitnya 570 korban tewas dan lebih dari 1.400 orang terluka.
“Di Israel, otoritas melaporkan 15 korban meninggal dan lebih dari 2.000 orang terluka akibat serangan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir,” ungkap laporan resmi WHO.
Berita terkait : Paus Leo XIV berduka atas korban konflik di Timur Tengah
Selain korban jiwa, WHO juga memverifikasi sejumlah serangan terhadap fasilitas kesehatan. Sejak 28 Februari, terdapat 18 serangan terhadap layanan kesehatan di Iran yang menewaskan delapan tenaga medis, serta 25 serangan di Lebanon yang menyebabkan 16 kematian dan puluhan luka-luka.
Serangan-serangan tersebut berdampak langsung pada kemampuan rumah sakit dan tenaga medis untuk memberikan layanan kepada masyarakat.
Konflik juga memicu pengungsian besar-besaran. Di Iran, lebih dari 100.000 orang terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka, sementara di Lebanon hingga 700.000 orang dilaporkan mengungsi dan banyak yang tinggal di tempat penampungan dengan kondisi sanitasi dan akses air bersih yang terbatas. Situasi ini meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular, terutama di kalangan perempuan dan anak-anak.
WHO menambahkan bahwa konflik tersebut juga mengganggu distribusi bantuan medis. Pembatasan wilayah udara dan gangguan jalur logistik telah menunda pengiriman lebih dari 50 permintaan pasokan darurat kesehatan yang direncanakan untuk membantu sekitar 1,5 juta orang di 25 negara.
Berita terkait : Ketegangan di Timur Tengah : Ramos-Horta peringatkan potensi dampak pada ekonomi nasional
Organisasi kesehatan dunia itu menegaskan bahwa tenaga kesehatan, pasien, dan fasilitas medis harus dilindungi sesuai dengan hukum humaniter internasional.
WHO juga menyerukan kepada semua pihak yang terlibat dalam konflik untuk melindungi warga sipil, memastikan akses kemanusiaan tanpa hambatan, serta menurunkan eskalasi konflik guna memulihkan kondisi masyarakat dan menuju perdamaian
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz
