Top

WHO perkenalkan metode baru diagnosis Tuberkulosis  

Source foto google

DILI, 12 Maret 2026 (TATOLI)— Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkenalkan sejumlah metode baru untuk meningkatkan diagnosis Tuberkulosis (TB), termasuk penggunaan tes molekuler di dekat lokasi pelayanan kesehatan, sampel usapan lidah, serta strategi penggabungan sampel dahak guna memperluas akses pemeriksaan.

Dalam pedoman terbaru yang dirilis WHO pada 09 Maret 2026,  menyatakan bahwa inovasi diagnostik tersebut bertujuan mempercepat deteksi TB, mengurangi biaya pemeriksaan, serta membantu negara-negara dengan sumber daya terbatas meningkatkan layanan diagnosis.

“Salah satu rekomendasi utama adalah penggunaan tes molekuler “near point-of-care” (NPOC), yakni tes yang dapat dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat dasar seperti pusat kesehatan masyarakat atau laboratorium kecil,” ungkap laporan pedoman terbaru yang diakses TATOLI itu.

Dijelaskan metode ini memungkinkan tenaga kesehatan melakukan pemeriksaan lebih dekat dengan pasien tanpa harus mengirim sampel ke laboratorium besar yang sering memerlukan waktu lebih lama.

WHO juga merekomendasikan penggunaan sampel usapan lidah (tongue swab) sebagai alternatif untuk mendeteksi TB. Metode ini dinilai lebih mudah dan nyaman bagi pasien dibandingkan pengambilan dahak, terutama bagi orang yang mengalami kesulitan menghasilkan sputum.

Namun demikian, WHO menegaskan bahwa sampel sputum atau dahak tetap menjadi metode utama dalam diagnosis TB karena tingkat akurasinya masih lebih tinggi. Penggunaan usapan lidah direkomendasikan sebagai alternatif ketika sampel sputum sulit diperoleh.

Selain itu, WHO juga memperkenalkan pendekatan sputum pooling, yaitu menggabungkan beberapa sampel dahak dari sejumlah pasien dalam satu pengujian laboratorium. Jika hasil pemeriksaan gabungan tersebut negatif, maka tidak diperlukan tes tambahan.

“Namun apabila hasilnya positif, setiap sampel akan diuji kembali secara terpisah,” tulis laporan tersebut.

Pendekatan ini dinilai dapat meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya laboratorium serta menurunkan biaya pemeriksaan, khususnya di negara dengan beban TB tinggi.

WHO menyatakan bahwa penerapan metode-metode baru ini diharapkan dapat membantu negara-negara memperluas akses diagnosis TB, menemukan lebih banyak kasus secara dini, dan mempercepat penanganan penyakit yang masih menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat penyakit menular di dunia. 

Reporter : Cidalia Fátima

Editor     : Armandina Moniz

 

Ramadan Publisidade

Leave a Reply

Latest Post

Sponsored