Amerika Serikat jadi tuan rumah pertemuan langka antara Israel dan Lebanon

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, bertemu Duta Besar Israel untuk AS Yechiel Leiter dan Duta Besar Lebanon untuk AS Nada Hamadeh Moawad, dalam pertemuan langka antara Israel dan Lebanon yang diadakan di Washington, DC, AS. Source foto Reuters

DILI, 15 April 2026 (TATOLI) – Amerika Serikat melalui Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio menjadi tuan rumah pertemuan langsung pertama antara Israel dan Lebanon pada  Selasa (14/04/2026). Dimana, kedua pihak mengatakan mereka mengadakan diskusi positif meskipun belum jelas apakah mereka akan menyepakati kerangka kerja untuk perdamaian.

Lebanon dan Israel mengadakan pembicaraan diplomatik pertama mereka setelah lebih beberapa dekade. Dimana, sebuah pertemuan langka yang bertujuan untuk mengakhiri pertempuran antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.

Kedua pihak bertemu di Washington, DC, dan berbicara selama lebih dari dua jam dalam pertemuan yang dipimpin langsung Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio.

Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan pernyataan setelah pertemuan bahwa kedua pihak telah melakukan “diskusi produktif mengenai langkah-langkah menuju peluncuran negosiasi langsung.”

Berbicara di awal pertemuan, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengakui bahwa pembicaraan pada hari Selasa tidak akan menyelesaikan “semua kompleksitas” tetapi ia berharap pembicaraan tersebut akan membantu membentuk kerangka kerja untuk perdamaian.

Berbicara kepada wartawan sebelum pertemuan, Marco Rubio  mengatakan pertemuan itu adalah “sebuah proses”.

“Ini akan memakan waktu, tetapi kami percaya upaya ini layak dilakukan,” katanya. “Ini adalah pertemuan bersejarah yang kami harap dapat kami kembangkan,” katanya.

Selain itu, Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, mengatakan dalam sebuah pernyataan setelah pembicaraan bahwa Israel dan Lebanon sepakat untuk bekerja sama mengurangi pengaruh Hizbullah.

Sementara itu, berbicara kepada wartawan usai pertemuan yang berjalan selama dua jam itu, Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat, Yechiel Leiter,  mengatakan bahwa pemerintah Lebanon telah memperjelas selama pembicaraan bahwa mereka tidak akan lagi “diduduki” oleh milisi Hizbullah Lebanon yang bersekutu dengan Iran. Ia menolak untuk mengatakan apakah Israel akan menghentikan serangannya terhadap Lebanon.

Sedangkan Duta Besar Lebanon, Nada Moawad, menggambarkan pertemuan pendahuluan tersebut sebagai “konstruktif”. Dalam sebuah pernyataan kepada Reuters, ia mengatakan bahwa dalam pertemuan tersebut ia menyerukan gencatan senjata dan pemulangan para pengungsi ke rumah mereka serta langkah-langkah untuk meringankan krisis kemanusiaan di Lebanon yang disebabkan oleh konflik tersebut.

Dilain tempat, dalam sebuah pernyataan, Presiden Lebanon Joseph Aoun berharap pembicaraan tersebut akan “menandai awal dari akhir penderitaan rakyat Lebanon secara umum, dan mereka yang berada di selatan khususnya”.

Ia mengatakan “satu-satunya solusi” untuk konflik tersebut adalah dengan angkatan bersenjata Lebanon “bertanggung jawab sepenuhnya atas keamanan wilayah tersebut”.

Sementara itu, Pemerintah Lebanon yang dipimpin oleh Presiden Joseph Aoun dan Perdana Menteri Nawaf Salam telah menyerukan negosiasi dengan Israel meskipun ada keberatan dari Hizbullah, yang mencerminkan memburuknya ketegangan antara kelompok Muslim Syiah tersebut dan lawan-lawannya.

Negara Lebanon telah berupaya melucuti senjata Hizbullah secara damai sejak perang antara milisi tersebut dan Israel pada tahun 2024. Setiap langkah Lebanon untuk melucuti senjatanya secara paksa berisiko memicu konflik di negara yang hancur akibat perang saudara dari tahun 1975 hingga 1990. Tindakan terhadap Hizbullah oleh pemerintah yang didukung Barat pada tahun 2008 memicu perang saudara singkat.

Dilain pihak, pertemuan yang terjadi itu berlangsung pada saat yang kritis dalam krisis di Timur Tengah , seminggu setelah gencatan senjata yang rapuh antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Hizbullah, kelompok milisi bersenjata lengkap dan canggih yang didirikan pada tahun 1982, memiliki pengaruh besar di wilayah selatan Lebanon yang mayoritas Syiah serta di pinggiran selatan ibu kotanya, Beirut.

Sementara itu, pertemuan tersebut dihadiri juga Penasihat Departemen Luar Negeri Michael Needham, Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz, dan Duta Besar AS untuk Lebanon Michel Issa, serta seorang teman pribadi Presiden AS Donald Trump, juga ikut serta dalam pembicaraan pada   Selasa tersebut.

TATOLI kutip dari Reuters dan BBC

 

Ramadan Publisidade

Leave a Reply

Latest Post

Sponsored