Timor-Leste dan Sierra Leone pertimbangkan misi bersama ke Guinea-Bissau dan Sudan Selatan

DILI, 15 April 2026 (TATOLI) – Pemerintah Timor-Leste dan Sierra Leone tengah mempertimbangkan pembentukan misi bersama ke Guinea-Bissau dan Sudan Selatan guna memperkuat upaya perdamaian, stabilitas, dan konsolidasi demokrasi di negara-negara anggota g7+.
Pemerintah Timor-Leste dan Sierra Leone tengah mempertimbangkan pembentukan misi bersama ke Guinea-Bissau dan Sudan Selatan guna memperkuat upaya perdamaian, stabilitas, dan konsolidasi demokrasi di negara-negara anggota g7+.
Pertemuan antara Perdana Menteri Timor-Leste Kay Rala Xanana Gusmão dan Presiden Sierra Leone Julius Maada Bio berlangsung melalui platform daring (Video Call) yang dimulai pada pukul 19:00 waktu Timor-Leste dan 10:00 waktu Sierra Leone pada 14 April 2026, dengan melibatkan jajaran pejabat tinggi kedua negara serta Sekretariat g7+.
Agenda utama pertemuan tersebut menekankan pentingnya memperkuat keterlibatan g7+ dalam mendukung negara-negara anggota melalui pendekatan dialog, mediasi, dan diplomasi preventif. Selain itu, kedua pemimpin juga membahas kemungkinan penguatan hubungan bilateral antara Timor-Leste dan Sierra Leone sebagai sesama negara pascakonflik yang kini berupaya memperkuat institusi demokrasi.

Perdana Menteri Timor-Leste Kay Rala Xanana Gusmão berbicara kepada media usai pertemuan yang dilakukan secara daring. Foto GPM
Berita terkait : Dewan Menteri CPLP kecam gangguan pemilu di Guinea-Bissau
Dalam diskusi tersebut, para peserta menyoroti situasi terkini di Guinea-Bissau dan Sudan Selatan yang dinilai masih menghadapi tantangan serius dalam stabilitas politik dan tata kelola pemerintahan.
Dalam wawancara usai pertemuan, Perdana Menteri Xanana Gusmão menjelaskan bahwa diskusi tersebut merupakan bagian dari upaya kolektif negara-negara g7+ untuk saling membantu dalam menyelesaikan konflik dan memperkuat demokrasi.
“Kami berbicara tentang bagaimana g7+ dapat saling membantu ketika terjadi konflik, termasuk persoalan kurangnya demokrasi dan penegakan hak asasi manusia,” ujar Kay Rala Xanana Gusmão.
Ia menyoroti pengalaman Sierra Leone yang dinilainya berhasil bangkit dari masa sulit menjadi negara yang lebih stabil di bawah kepemimpinan Julius Maada Bio, yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua g7+ dan ECOWAS (Komunitas Ekonomi Negara-Negara Afrika Barat)
Terkait Guinea-Bissau, Xanana mengingatkan kembali keterlibatan Timor-Leste pada tahun 2014 yang membantu pelaksanaan pemilu demokratis pertama di negara tersebut setelah puluhan tahun. Bantuan itu mencakup dukungan teknis kepada STAE, Komisi Pemilihan Nasional (CNE), hingga penyediaan peralatan pemilu.
Namun demikian, ia menilai kondisi politik di Guinea-Bissau saat ini kembali mengalami kemunduran.
“Kami sudah membantu banyak hal di sana, tetapi sekarang muncul masalah kembali sehingga demokrasi menjadi tantangan,” katanya.
Xanana juga menyinggung kompleksitas keterlibatan organisasi regional seperti ECOWAS karena dengan Keketuaan Timor-Leste di CPLP, yang menurutnya belum sepenuhnya diterima oleh pihak Guinea-Bissau.
Dalam konteks itu, ia menilai g7+ dapat menjadi platform alternatif untuk mendorong dialog yang lebih netral dan konstruktif.
Berita terkait : Sekjen PBB kecam kudeta di Guinea-Bissau
Selain Guinea-Bissau, Sudan Selatan juga menjadi perhatian utama dalam diskusi. Xanana mengingatkan bahwa sebagai negara termuda di dunia setelah Timor-Leste, Sudan Selatan masih menghadapi tantangan serius meskipun telah bergabung dalam g7+.
Ia menekankan pentingnya pertukaran pengalaman antara negara-negara pascakonflik, terutama untuk menghindari kekerasan berkepanjangan yang dapat menghambat pembangunan.
Dalam pertemuan tersebut, Presiden Sierra Leone Julius Maada Bio menyampaikan dukungan terhadap gagasan misi bersama g7+, yang akan mempertimbangkan pendekatan dialog dan rekonsiliasi sebagai prioritas utama.
Sekretaris Jenderal g7+ Helder da Costa juga menegaskan kesiapan sekretariat untuk mendukung segala inisiatif yang bertujuan mengurangi konflik dan memperkuat stabilitas di negara-negara anggota.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi, termasuk Menteri Luar Negeri dan Kerja Sama Timor-Leste Bendito dos Santos Freitas, serta perwakilan tetap di PBB Dionisio Babo Soares.
Dari pihak Sierra Leone, turut hadir Menteri Luar Negeri Alhaji Timothy Musa Kabba, Menteri Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Kenyeh Barlay, serta jajaran diplomatik lainnya.
Sementara itu, Sekretariat g7+ juga turut berpartisipasi melalui Wakil Sekretaris Jenderal dan para manajer teknis yang mendukung jalannya pembahasan.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz
