Kesepakatan Iran – AS belum tercapai, Sekjen PBB minta semua pelanggaran dihentikan

DILI, 14 April 2026 (TATOLI) – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres meminta Iran dan Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan semua pelanggaran, meskipun kesepakatan antara keduanya belum tercapai.
Hal itu disampaikan Juru Bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric, dalam sebuah pernyataan yang dirilis PBB pada Senin (13/04), menanggapi pertemuan antara Iran dan AS yang belum mencapai kesepakatan.
“Gencatan senjata harus benar-benar dipertahankan/dihentikan. Semua pelanggaran harus dihentikan. Mengingat perbedaan yang sangat mendalam, dan kesepakatan tidak dapat dicapai dalam semalam, dan Sekretaris Jenderal menyerukan agar pembicaraan terus berlanjut secara konstruktif untuk mencapai kesepakatan,” kata Stephane Dujarric.
Sekjen PBB kata Stephane Dujarric bahwa setelah berminggu-minggu terjadi kehancuran dan penderitaan, jelas bahwa tidak ada solusi militer untuk konflik yang terjadi saat ini di Timur Tengah.
Berita terkait : Gagal capai kesepakatan dengan Iran, Trump umumkan rencana blokade Selat Hormuz
Dikatakan, meskipun tidak ada kesepakatan yang tercapai dalam pembicaraan yang diselenggarakan oleh mediator dari Pakistan antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran di Islamabad, diskusi itu sendiri menggarisbawahi keseriusan keterlibatan mereka dan merupakan langkah positif dan bermakna menuju dialog yang diperbarui.
Dikatakan, Sekjen PBB juga berterima kasih atas upaya berkelanjutan dari para mediator – Pakistan, yang menjadi tuan rumah pembicaraan ini, serta Arab Saudi, Mesir, dan Turki – dan menyerukan kepada komunitas internasional untuk mendukung upaya tersebut.
Sekretaris Jenderal menekankan bahwa semua pihak dalam konflik ini harus menghormati kebebasan navigasi, termasuk di Selat Hormuz, sesuai dengan hukum internasional.
“Kita perlu mengingat bahwa sekitar 20.000 pelaut telah terjebak dalam konflik ini dan saat ini terdampar di kapal, menghadapi kesulitan yang semakin meningkat setiap hari. Gangguan dalam perdagangan maritim melalui Selat Hormuz telah berdampak langsung jauh melampaui wilayah terdekat, dengan meningkatnya kerapuhan ekonomi global dan ketidakamanan di banyak sektor,” katanya.
Dikatakan, gangguan pasokan pupuk dan inputnya semakin memperburuk kerawanan pangan bagi jutaan orang rentan di seluruh dunia, menambah kenaikan biaya hidup akibat dampak dari gangguan bahan bakar, transportasi, dan rantai pasokan.
Dengan mempertimbangkan hal tersebut, Direktur Eksekutif Kantor Layanan Proyek PBB (UNOPS), Jorge Moreira da Silva, bekerja sama dengan Badan Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD), Organisasi Maritim Internasional (IMO), dan Kamar Dagang Internasional, terus terlibat secara luas dengan pihak-pihak terkait untuk merancang dan mengoperasionalkan mekanisme yang telah diumumkan untuk Selat Hormuz pada tanggal 27 Maret lalu.
Berita terkait : Iran kembali tutup Selat Hormuz akibat Israel serang Lebanon
Sementara itu, Utusan Pribadi Sekretaris Jenderal, Jean Arnault, tetap aktif terlibat di kawasan Timur Tengah untuk, berkonsultasi erat dengan para pemangku kepentingan utama dan melanjutkan upayanya untuk mendukung kesepakatan yang komprehensif dan berkelanjutan.
Sebelumnya, pada 07 April, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan gencatan senjata dengan Iran, yang akan berlangsung dari kedua pihak, selama dua minggu.
“Berdasarkan percakapan dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir, dari Pakistan, dan di mana mereka meminta agar saya menahan kekuatan penghancur yang dikirim malam ini ke Iran, dan dengan syarat Republik Islam Iran menyetujui PEMBUKAAN SELAT Hormuz SECARA LENGKAP, SEGERA, dan AMAN, saya setuju untuk menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu,” tulis Trump di media sosialnya.
“Ini akan menjadi gencatan senjata dua arah,” kata Trump.
Gencatan senjata dua arah itu dihentikan untuk menuju ke pertemuan dua negara yang diakan difasilitasi oleh Pakistan.
Sehingga pertemuan yang difasilitasi oleh Mediator dari Pakistan untuk pertemuan antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran itu dilakukan di Islamabad, pada Sabtu (11/04) waktu setempat. Namun, pertemuan tersebut belum mencapai kesepakatan.
Untuk diketahui, Perang Iran dimulai ketika AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari. Teheran membalas dengan serangan balasan terhadap Israel dan negara-negara Teluk yang memiliki pangkalan AS. Perang ini telah mengguncang pasar global dan menaikkan harga minyak.
TATOLI
